Penting Menjaga Keseimbangan Air dan Elektrolit dalam Tubuh Saat Berolahraga

Pemeliharaan Homeostatis Keseimbangan Air dan Elektrolit Pada Olahraga

Sebagaimana diketahui jumlah cairan tubuh kita sekitar 70% dari berat badan. Kehilangan cairan yang cukup banyak dalam waktu singkat dapat mengganggu homeostatis yang selanjutnya akan mengganggu proses metabolisme dengan akibat terganggunya penampilan fisik prestasi olahraganya.

Untuk itu perlu diketahui bagaimana kejadian serta bagaimana cara mengatasi bahaya kekurangan garam dan cairan tersebut.

Produksi Keringat 

Pengeluaran keringat yang berlebihan pada kelembaban dan suhu lingkungan yang tinggi selama berolahraga, pada dasarnya untuk tujuan mempertahankan suhu tubuh yang berarti mempertahankan hidup. Akan tetapi pengeluaran keringat yang berlimpah dapat mengganggu keseimbangan elektrolit (garam-garam) dan cairan tubuh (dehidrasi). Hal ini akan dapat mengganggu penampilan olahraga, karena akan mengakibatkan terjadinya kelemahan, kelelahan, kejang-kejang, bahkan kalut pikiran (halusinasi). 


Indikator yang sederhana dan mudah untuk mengetahui apakah kita masih dalam kecukupan air ialah:

  1. Berat badan kita stabil.
  2. Masih dapat buang air kecil mencapai jumlah 1-1,5 lt/24 jam (5-6 kali buang air kecil dalam 24 jam).

Pada suhu lingkungan yang lebih tinggi mekanisme pembuangan panas melalui pancaran (radiasi) dan hantaran (konduksi) menjadi terhambat, sehingga titik berat mekanisme pembuangan panas harus beralih ke cara penguapan (evaporasi). Maka terjadilah perubahan mekanisme aktifitas pengeluaran keringat dan evaporasi nya sebagai berikut:

  1. Terjadi peningkatan aktivitas kelenjar keringat yaitu kelenjar keringat harus mampu mengeluarkan jumlah keringat yang lebih banyak dengan kandungan garam yang lebih sedikit. Artinya dengan terjadinya aklimatisasi, maka tubuh dapat menghasilkan keringat yang lebih banyak serta lebih encer (hipotonis).
  2. Kemampuan vasodilatasi perifer (memperlebar pembuluh darah tepi) yang lebih baik khususnya pembuluh darah kulit. Dengan demikian maka pemindahan panas dari bagian dalam (inti) tubuh ke permukaan tubuh (kulit) dan proses pembuangannya melalui penguapan menjadi lebih baik.

Akan tetapi aklimatisasi adalah proses yang berangsur oleh karena itu perlu waktu. Mills (1983) mengatakan bahwa untuk hasil aklimatisasi yang baik diperlukan waktu antara 8-10 hari. Fex, Bewers dan Foss (1988) mengatakan bahwa dengan melakukan olahraga dengan program pembebanan yang progresif, maka aklimatisasi dapat diselesaikan dalam waktu 5-8 hari. Taylor dan Strydom et. Al (dikutip oleh Karpovich dan Shining 1971) dengan penelitiannya berkesimpulan bahwa diperlukan waktu antara 4-5 hari untuk dapat beraklimatisasi terhadap suhu lingkungan yang tinggi, akan tetapi kemampuan mengeluarkan keringat yang maksimal baru terjadi setelah 10 hari. Dikemukakan lebih lanjut bahwa tingkat kebugaran jasmani yang lebih baik, yang diperoleh melalui latihan di tempat asal, akan mudah tetapi tidak dapat menggantikan proses aklimatisasi itu sendiri dengan mengacu kepada pendapat-pendapat tersebut, maka merupakan tindakan yang tepat sekali apabila atlet-atlet yang berasal dari daerah dingin dipindahkan lebih dahulu ke daerah yang panas atau yang sama iklimnya dengan daerah tempat bertanding nanti. Perbedaan suhu sebesar 4 derajat Celcius saja sudah mempunyai dampak fisiologis yang cukup besar terhadap performa fisik.

Toleransi terhadap perubahan suhu inti tubuh yang masih dapat dipertahankan agar prestasi kerja mental dan fisik tetap optimal ialah sebesar 4 derajat Celcius. Namun walaupun perbedaan suhu lingkungan tempat asal dengan suhu lingkungan tempat bertanding hanya 4 derajat Celcius, proses aklimatisasi tetap sangat perlu dilaksanakan oleh atlet-atlet yang berasal dari daerah yang lebih dingin tersebut, apabila dikehendaki penampilan mental dan fisik yang tetap optimal seperti di tempat asal.

Walaupun aklimatisasi terhadap panas memang sangat penting akan tetapi hal itu tidak menjamin bahwa atlet tersebut telah terbebas dari kemungkinan mendapat gangguan yang bersifat patologis dari keadaan suhu dan kelembaban lingkungan yang tinggi. Oleh karena itu perlu dikenal dan diwaspadai masalah kelainan patologis yang disebabkan oleh suhu lingkungan yang panas dan lembab.

Kegawatan Panas 

Kelainan patologis yang disebabkan oleh suhu dan kelembaban lingkungan yang tinggi ada empat macam/tingkatan yang berdasarkan berat dan urutan kejadiannya adalah sebagai berikut:

  1. Pingsan panas (Heat syncope) 
  2. Kejang panas (Heat kram) 
  3. Kelelahan panas Heat Exhaustion) 
  4. Kegawatan panas (Heat Stroke) 

Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya kelainan patologis tersebut ialah:

  • kelelahan berlebihan yang dapat terjadi antara lain pada atlet cabang raga yang berat dan lama, contoh lari jarak jauh, pemain sepak bola, pemain basket.
  • keracunan alkohol 
  • penggunaan obat anticholinergik, misalnya atlet yang mempunyai penyakit maag dan menggunakan obat jenis anticholinergik.
  • kekurangan cairan tubuh, misalnya karena pengeluaran keringat yang berlebihan.
  • kekurangan makan garam, karena itu atlet perlu menambah garam dalam makanannya.
  • kekurangan sumber energi, soalnya karena belum makan atau tidak sempat makan sebelum bertanding. 

Kemungkinan adanya faktor-faktor tersebut perlu diwaspadai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

1. Pingsan Panas (Heat Syncope

Terjadi pingsan secara tiba-tiba setelah berolahraga atau kerja fisik di tempat panas, dengan keadaan penderitanya sebagai berikut:

  • kulit basah dan dingin.
  • denyut nadi lemah 
  • tekanan darah menurun, 

Penderita demikian biasanya cepat sembuh apabila dibaringkan di tempat teduh, didinginkan (dikipasi atau diseka dengan air es) dan di beri minum.

Ditinjau dari sudut Ilmu Faal kejadian ini disebabkan oleh karena adanya vasodilatasi sistemik yang berlebihan, yang menyebabkan terjadinya hipovolemia relatif sehingga terjadi orthostatis dan shock hipovolemik. Pendinginan akan menyebabkan terjadinya vasokonstriksi yang akan memulihkan dari keadaan hipovolemia menjadi normovolemia. Akan lebih baik bila juga diberi minum air dingin dengan suhu sekitar 5-10 derajat Celcius.

2. Kejang Panas (Heat Cramps)

Penyebab utama kejang panas ialah kehilangan banyak garam yang keluar bersamaan dengan keluarnya keringat yang melimpah, yang kemudian hanya diganti dengan minuman yang tidak mengandung garam serta tidak pula menambahkan garam ekstra dalam makan-makanan sebelumnya.

Gejala-gejala kejang panas ialah sebagai berikut:

  • Otot-otot perut dan anggota badan mengalami kejang yang disertai nyeri (kramp), yang dapat pula disertai dengan kedutan-kedutan otot (muscle twitching) 
  • kulit basah dan dingin 
  • suhu inti tubuh diukur di rektum melalui anus Normal atau sedikit hanya sedikit meningkat 
  • bila dilakukan pemeriksaan darah, akan ditemukan adanya pemekatan darah konsentrasi (hemokonsentrasi) dan penurunan kadar garam (hyponatraemia) 

Pada dasarnya, keadaan ini juga disebabkan oleh adanya hipovolemia yang disebabkan oleh adanya hyperhydrosis (pengeluaran keringat yang berlebihan) dengan disertai gangguan tata elektrolit, sehingga menyebabkan terjadinya kejang-kejang.

Cara pertolongannya:

Penderita hendaknya ditempatkan di tempat yang sejuk, diberikan pertolongan terhadap otot-ototnya yang kejang dengan cara meregangkannya, setelah itu dapat dibantu dengan massase ringan untuk membantu memperlancar peredaran darahnya. Jangan melakukan masase pada otot yang sedang kejang, karena justru akan menambah rasa nyeri pada otot yang bersangkutan.

Bila memungkinkan beri infus NaCl 0,9%, tetapi bila tidak memungkinkan dapat diusahakan dengan pemberian 1 gram NaCl (kurang lebih seujung sendok teh) diminum dengan air 2- 3 gelas, diulang 5- 10 kali dengan selang waktu antara 30 s/d 60 menit hasilnya biasanya cepat baik dan penderita biasanya tidak memerlukan perawatan Rumah Sakit air minum bergaram tidak boleh terlalu asin, karena dapat menimbulkan mual dan bahkan muntah. 

3. Kelelahan Panas (Heat Exhaustion)

Kelelahan panas merupakan reaksi seluruh tubuh (reaksi sistemik) terhadap pemaparan panas yang berkepanjangan (prolonged heat exposure) yang berlangsung berjam-jam atau berhari-hari yang disebabkan oleh karena:

  • gangguan keseimbangan elektrolit: kehabisan garam (salt/sodium depletion)
  • gangguan keseimbangan cairan tubuh: dehidrasi (kekeringan=kekurangan cairan tubuh)
  • gabungan kedua hal tersebut. 

Apabila ditinjau dari kejadiannya, maka terdapat 2 bentuk yaitu:

a. Gangguan keseimbangan elektrolit: kehabisan garam (salt/sodium depletion)

Terutama terjadi pada orang-orang yang belum beraklimatisasi dengan baik terhadap panas. Hal demikian dapat terjadi apabila pengeluaran keringat yang sangat banyak hanya diganti dengan cairan minum tanpa disertai garam, yang dapat menyebabkan terjadinya hipotoni cairan tubuh.

Gejala-gejalanya ialah:

  • kejang-kejang (seperti pada heat cramps)
  • mual, muntah dan diare.
  • lemah dan pucat. 
  • tekanan darah menurun disertai dengan jantung yang sangat cepat. 
  • suhu tubuh biasanya normal.
  • pada pemeriksaan laboratorium laboratorium dijumpai kadar garam dalam cairan tubuh menurun.
  • hal-hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa penderita tidak haus. Jadi apabila orang ini kemudian diberi minum minuman yang tidak mengandung garam, maka keadaan ini akan menjadi lebih parah penderita demikian sebaiknya dibawa ke rumah sakit karena memerlukan pemeriksaan kadar elektrolit serum dan fungsi ginjal, oleh karena ada kemungkinan terjadinya hyponatraemia (kekurangan garam) atau azotaemia (kekurangan nitrogen/protein) yang berat. 

Cara pertolongan pertama:

  • pindahkan ke tempat yang dingin.
  • beri minum air dingin dan air buah yang diberi garam dengan jumlah yang kurang lebih sama dengan jumlah air dan garam yang hilang Kurang lebih sesuai dengan berkurangnya berat badan
  • apabila penderita tidak dapat minum perlu segera dibawa ke rumah sakit oleh karena memerlukan pertolongan lebih lanjut di RS.

b. Gangguan Keseimbangan cairan tubuh: Dehidrasi (kekeringan)

Terjadi karena kehilangan banyak cairan disertai kekurangan pemasukannya

Gejala-gejalanya ialah:

  • sangat halus dan lemah 
  • gangguan pada susunan saraf pusat berupa: gangguan koordinasi gerak, gelisah dan kacau pikiran, (delirium dan psychose), pingsan (coma), suhu tubuh sangat meningkat (hyperthermia).

Untuk mencegah dehidrasi dan memelihara penampilan yang optimal selama melakukan olahraga, penggantian jumlah air yang hilang melalui keringat, minimal harus mencapai 40-50%. Untuk itu bagi pelari jarak jauh khususnya maraton minum harus di program yaitu sekitar 15-20 menit perlu diberi minum yang mengandung garam misalnya oralit (satu bungkus untuk 2 gelas). Suhu air minum harus lebih dingin daripada suhu tubuh yaitu 5-10 derajat Celcius. Akan lebih baik apabila pada setiap Pos tersedia alat semprot air guna membasahi tubuhnya. Membasahi tubuh dengan semprotan air hakekatnya adalah membuat keringat bagi yang bersangkutan, sehingga dengan demikian dapat mengurangi pengeluaran keringat sendiri yang berarti menghemat air tubuh dan dengan demikian memperkecil kemungkinan terjadinya gangguan homeostatis.

c. Gangguan Keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh

Menurut kejadiannya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh terdiri dari tiga tahap:

c.1. Dehidrasi Hipertonik 

Dehidrasi ini terjadi oleh karena pengeluaran keringat yang berlebihan yang terjadi pada orang yang melakukan olahraga berat dan berlangsung lama, misalnya pada lari marathon. Keringat bersifat hipotonis, kandungan garamnya antara 0,2-0,5% (Karpovich dan Shining 1971). Makin terlatih Seorang atlet makin hipotonis keringatnya. Oleh karena itu cairan yang tertinggal di dalam tubuh disamping jumlahnya berkurang, juga menjadi hipertonis pada dehidrasi hipertonis orang akan merasa sangat haus.

c.2. Dehidrasi Isotonik

Bila oleh karena rasa haus ia terlalu banyak minum air saja tanpa penambahan garam, maka cairan tubuh yang semula hipertonis akan menjadi isotonis dan oleh karena itu ia menjadi tidak lagi merasa haus. Akan tetapi jumlah air dalam tubuh belum pulih seperti semula yang dapat dilihat dari belum pulihnya berat badan. Demikianlah maka terjadi kondisi yang disebut dehidrasi isotonik.

c.3. Dehidrasi Hipotonik. 

Bila ia karena menyadari bahwa berat badannya belum pulih lalu melanjutkan minum air saja tanpa garam sampai berat badannya kembali seperti semula, maka cairan tubuh menjadi encer dan terjadilah keadaan yang disebut dehidrasi hipotonik. Hipotoni cairan tubuh dapat menimbulkan gejala keracunan air yang disebabkan oleh karena tertariknya air ke dalam sel sehingga menyebabkan odema sel. Keracunan air ini dapat memberi gejala misalnya sakit kepala, mual, muntah dan sebagainya. 

Apabila dehidrasi disertai dengan kegagalan pembelajaran darah (shock) atau gejala ayan kejang-kejang (major seizures), keadaan dapat dengan cepat berubah menjadi kegawatan panas (heat stroke).

4. Kegawatan Panas  (Heat Stroke)

Kegawatan panas merupakan keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera, oleh karena itu perlu segera dibawa ke RS. Kegawatan panas disebabkan karena kegagalan mekanisme pengaturan suhu tubuh yaitu terjadi kenaikan suhu tubuh tetapi tidak disertai pengeluaran keringat. Suhu tubuh akan sangat meningkat (hipertermia/hiperpirexia) yang akan menyebabkan hilangnya kesadaran dan terjadi kerusakan jaringan ikat dan jaringan otot yang luas yang disebut sebagai massive rhabdomyolysis.

Gejala penyakit dan kematian disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada: otot, sistem jantung-pembuluh darah, hati dan ginjal.

Kegawatan panas biasanya terjadi sebagai akibat dari:

  • terlalu lama dalam lingkungan panas yang tinggi, 
  • olahraga berat pada suhu lingkungan yang panas. 

Oleh karena itu index WBGT dan program minum berkala perlu mendapat perhatian. Akan tetapi kegawatan panas dapat juga terjadi pada suhu lingkungan yang tidak terlalu panas, misalnya terjadi pada orang usia lanjut orang-orang yang lemah orang-orang yang memang peka terhadap kejadian demikian. Faktor-faktor predisposisi (yang memudahkan) untuk terjadinya keadaan panas ialah: 

  • penyakit jantung pembuluh darah.
  • kecanduan alkohol.
  • obesitas 
  • baru saja sembuh dari penyakit demam 
  • kelemahan fisik yaitu kebugaran jasmani yang rendah.

Faktor-faktor yang dapat membantu mempermudah terjadinya kejadian tersebut ialah pemakaian obat-obatan misalnya diuretika sedativa (obat-obatan penenang) dan obat-obatan anticholinergik misalnya obat untuk sakit maag lambung. Oleh karena itu, setiap atlet yang menggunakan memerlukan obat harus selalu berkonsultasi dengan dokter tim.

Gejala Kegawatan Panas

Gejala awalnya ialah: pusing dan sakit kepala, mual, penglihatan kabur, kacau pikir yang selanjutnya diikuti oleh kejang-kejang dan akhirnya terjadi kehilangan kesadaran (coma).

Suhu kulit panas kulit berwarna merah dan kering. Nadi kuat dan sangat cepat tekanan darah mula-mula sedikit naik tapi kemudian turun menjadi lebih rendah daripada normal, suhu rektal dapat mencapai 43 derajat Celcius.

Cara Pertolongan Pertama

Usahakan menurunkan suhu tubuh secepatnya dengan membawa ke tempat yang teduh dan dingin. Buka seluruh pakaian dan seka dengan air dingin (air es), dan kipasilah; atau secepat yang masukkan penderita ke dalam air dingin. Apabila suhu rectal telah mencapai 39 derajat Celcius, hentikan usaha untuk menurunkan suhu tubuh, tetapi suhu tubuh harus tetap dipantau. Apabila suhu tubuh naik lagi ulangi lagi usaha tersebut. Selanjutnya penderita harus dibawa ke rumah sakit.

Dengan diagnosa yang cepat dan penanganan pertama yang tepat, 80-90% penderita yang pada dasarnya memang sehat dapat tertolong. Prognosa adalah jelek apabila 

  • suhu rektal mencapai 41 derajat Celcius 
  • lebih dari 2 jam 
  • hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tanda-tanda kerusakan jaringan yang luas

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Penting Menjaga Keseimbangan Air dan Elektrolit dalam Tubuh Saat Berolahraga"

  1. Nama : I Gede Sangku Winangun
    No absen : 3
    KLS : X TB 2

    Pentingnya menjaga cairan dalam tubuh, sebagaimana di ketahui jumlah cairan tubuh kita sekitar 70% dari berat badan. Kehilangan cairan yang cukup banyak dalam waktu singkat dapat mengganggu homeostatis yang selanjutnya akan mengganggu proses metabolisme dengan akibat terganggunya penampilan fisik prestasi olahraganya.

    ReplyDelete
  2. Nama: Ni Putu Ayu Desy Puspa Yanti
    No : 34
    Kelas: X TB1
    Menjaga keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh saat berolahraga sangat penting karena jika kehilangan cairan yang cukup banyak dalam waktu singkat dapat mengganggu homeostatis yang selanjutnya akan mengganggu proses metabolisme sehingga menimbulkan penyakit-penyakit.Mengkonsumsi air yang berlebihan saat olahraga, khususnya olahraga berat juga berbahaya bagi tubuh. Kelebihan minum air dapat menyebabkan hiponatremia akut atau kekurangan natrium yang bisa berujung pada kematian. Maka dari itu dalam berolahraga kita harus menjaga dengan baik keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh.

    ReplyDelete
  3. Nama:Ayu Putu Narayanti
    No:2
    Kelas:X TB1

    Menjaga keseimbangan Air merupakan komponen vital dalam tubuh. Tubuh kita tersusun atas komponen air yaitu 75% pada bayi baru lahir, 60% pada orang dewasa dan 50% pada orang tua. Tubuh akan kehilangan air ketika kita berkeringat, buang air kecil, buang air besar, bahkan ketika kita bernapas. Penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, ketika terdapat cairan yang keluar tubuh maka kita harus minum air agar cairan tubuh yang hilang tersebut tergantikan sehingga cairan tubuh tetap seimbang. Tidak ada peraturan terkait baerapa banyak air yang harus kita konsumsi per hari, tetapi terdapat beberapa perkiraan yang bervariasi dari 1.2L hingga 3L (pria) atau 2.2L (wanita).

    ReplyDelete