PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PEMBELAJARAN PJOK

A. Bermain Bagi Anak Usia Dini 

Tidak ada kegiatan yang paling menyenangkan bagi anak kecuali bermain. Bermain bagi anak usia dini, merupakan tuntunan dan kebutuhan yang esensial, yang tidak bisa digantikan oleh kegiatan atau aktivitas yang lain. Melalui bernain anak dapat memuaskan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, nilai, dan sikap hidup bermasyarakat. Namun demikian terkadang masih ada orang tua yang melarang anaknya untuk bermain, dengan berbagai alasan. Misalnya takut kotor, menghabiskan waktu yang seharusnya untuk belajar, takut kepanasan dan lain lain. Para ilmuan tersebut menekankan bahwa tidak ada bidang lain yang lebih besar kecualibelajar menjadi individu yang hidup, berkembang dan berososialisasi di masyarakat. 

1. Pengertian Bermain 

Menurut Seafeldt dan barbour, aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang spontan pada anak yang menghubungkannya dengan kegiatan orang dewasa dan lingkungab termasuk didalamnya imajinasi, penampilan abak dengan menggunakan keseluruhan perasaan, tangan atau seluruh badan. Beberapa pakar dan ahli memberi batasan tentang arti bermain, ynag tentunya memiliki perbedaan antara definisi yang satu dengan yang lain. Namun demikian menurut Dworezky seperti yang dijelaskan Moeslichatoen, sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain, yaitu sebagai berikut: 
  1. Motivasi instriksik . Tingkah laku bermain dimotivasi daru dlaam diri anak. Mereka melakukan itu untuk diri sendiri dan bukan karena adanya tuntutan dari masyarakat atau funsi - fungsi tubuh. 
  2. Pengaruh positif. Tingkah laku itu menyenangkan atau mengembirakan untuk dilakukan. 
  3. Bukan dikerjakan sambil lalu. Tingkah laku ini bukan dilakukan sambil lalu sehingga tidak mengikutu pola atau urutan yang sebenarny, melainkan lebih bersifat pura-pura. 
  4. Cara atau tujuan. Cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Anak lebih tertarik keoada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan. 
  5. Kelenturan. Bermain merupakan perilaku yang lentur. 
Bermain juga mengajarkan tentang cara mengendlaikan diri sendiri, memahami kehidupuan, serta memahami dunianya. Oleh karena itu, bermain menurut Moeslichatoen adalah cermin perkembangan anak. 

2. Fungsi Bermain 

Dengan bermain, anak anak mengunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra indra tubuhnya, menstimulasi indra indra tubuhnya. Selain itu dengan bermian, anak anak juga dapat menemukan dan mempelajari hal - hal baru yang dapat menyenangkan. 

Hartley, frank, dan goldensen menyebutkaan delapan fungsi bermain bagi anak sebagai berikut : 
  1. Menerikan sesuatu yang diilakukan oleh orang dewasa. Contohnya menirukan ibu memasak, dokter mengobati orang sakit. 
  2. Untuk melakukan berbagai peran yang ada didalam kehidupan nyata, sepeti guru mengajar dikelas, Dan sebagainya.
  3. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalam hidup dan nyata. 
  4. Untuk menyalurkan perassan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk- nepuk air dan lainnya. 
  5. Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima, seperti berperan sebagai pencuri dan sebagainya. 
  6. Untuk kilas balik peran-peran yannga biasa dilakukan seperti mandi, sarapan, naik angkutan dan lainnya. 
  7. Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan kaki yang lebih kuat bertambah tinggi tubuhnya, dapat semakin berlari cepat. 
  8. Untuk memecahkan masalah dan mencoba sebgai penyelesaian masalah, seperti menghias ruangan dan sebagainya. 
Selain itu , bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Dengan menampilkan berbagai macama peran, anak berusssaha untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran yang diambilnya aetelah dewasa. Selain beberapa fungsi yang dijelaskan oleh pakar tersebut, menurut Moeslichatoen ada beberapa fungsi bermain yang lainnya antara lain sebagai berikut : 
  1. Mempertahankan kesimbangan 
  2. Mengahyati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. 
  3. Mangantisifasi peran yang akan dijalani dimassa yang akan datang. 
  4. Menyempurnakan keterampilan – keterampilan yang dipelajari. 
  5. Menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah. 
  6. Meniingkatkan keterampilan hubungan dengan anak lain. 
b. Aspek Perkembangan Yang Dapat Dikembangkan Melalui Yang Dikembangkan Melalui Bermain Berdasarkan Teori Garner. 

Berikut dijelaskan manfat bermain yang meliputi seluruh aspek perkembangan anak seperti diuraikan oleh teori hward Gardner . 
a. Lingguistic Intelegence ( kecerdassaan Bahasaa) 
Kecerdasaan meliputi kemampuan berbahasa secara lisan dan tulisan. Kemampuuan berbahasa memmpunyai peranaan yang penting bagi manusia dalam kehidupan sosial. 

b. Logical Matemtchic Intelligence (kecerdasaan Logika matematika) 
Kecersaan logika matetika meliputi kempuan menganilsa masalah yang bersifat logis matematic dan mengintevestasi masalah secara ilmiah. Kemampuan ini melibatkan sejumlah bagian pusat berpikir di otak. 

c. Musical Intelligence (kecerdasan Musik) 
Kecerdsaan musik meliputi kemampuan dalam penampilan, komposisi, dan apresisasi bentuk-beentuk musik. Bagian otak yang memproduksi kemampuan dibidaang musik terletak diotak bagian kanan. 

d. Bodily – Kinestetic Intelegency (kecerdasaan Olah Tubuh) 
Kecerdasaan olah tubuh merupakan kemampuan menggunakan seuruh bagian- bagian tubuh untuk menyelesaikan masalah atau melakukan suatu gerak yang menghasilkan produk. 

e. Visual Spatial Intelligence (kecerdasaan bentuk dan Ruang)
Kecerdassan bentuk dan ruang meruapakan kekmpuan mengordinisasi dan manipulasi gambar dan ruangan yang lebar. 

f. Interpersonal Intelligence (kecerdassan intepersonal) 
Kecepatan interposal merupakan kekmapuan seseorang untuk dimengerti maksud, motivasi, motivasi dan hastrat orang lain, serta konsekuen bekerja efektif dengan orang lain walaupun semua tidak begitu tampak. 

g. Intrapersonal Intelegece ( kecerdasan Intrapersonal) 
Kecerdasan intrapersonal merupakan kemapuan untuk mengerti diri sendiri memiliki kekmampuan untuk bekerja sendiri dengan afektif dan memanfaatkan informasi untuk mengatur kehidupan sendiri. 

h. Kecerdsaan Naturalis 
Kecerdasaan naturalis berkaitan deng didunia. Kecerdaan an semua yang terdapat di dunia. Kecerdasan ini sangat sensitif untuk di simulasikan dengan semua aspek alam yang mencakup bertanam, binatang,cuaca,dan gambaran fisik dari bumi . di dalamnya termasuk keterampilan mengenali berbagai kategori dan varitas dari binatang,serangga,tanaman,serta bunga. Contoh kegiatan ada dua.pertama, mencatat fenomena alam yang melibatkan hewan tanaman dan hal-hal sejenis. Kedua, memperlihatkan pemahaman yang mendalam dalam topik topik yang melibatkan sistem kehisupan. 

i. Kecerdasan Eksistensional 
Anak mengenak dirinya dan mengerti yang harus diperbuat untuk tuhan-nya, alamsemesta, bangsa dan negara, masyarakat, serta keluarganya. Hal ini di wujudkan dengan mengaktualisasikan diri melalui beberapa kegiatan secara kompresif. contoh:anak dapat menempatkan diri di mana pun dia berada. 

j. Kecerdasan spritual 
Kecerdasaan spritual berkaitaam dengan kejiwaan, agama, kepercayaan dan sebgainya. Mereka dijadikan fondasi dalam mengspolasi dan memperdayakan kecerdasaan lainnya. Contohnya adalah dengan menyanyikan lagu yng mempunyai nilai agama. 


c. Pembelajaran Yang Menyenangkan Melalui Bermain. 

Dunia dan bermain laksana kepingan uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Bermain merupakan kebutuhan bagi setiap anak dimana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Anak anak selalu bermain dengan canda dan tawa mealului beermain inilah mereka merasa bebas tanpa tekanan. Sebenarnya, memalui kegitaan bermain, anak juga sedang belajar, sebab memahami belajar untuk anak usia dini, tidak seperti halnya skolah dasar atau menegah. 
Khodijah dan wismiarti seperti yang dikutip latig dkk, mengatakan bahwa pembelajaran anak harus berdasarkan prinsip-prinsip berikut : 
  1. Pembelajaran berorrientasi pada kebutuhan anak. 
  2. Dunia anak adalah dunia bermain, maka selayaknya pembelajaran untuk anak usia dini rancanfan dalam belajar adalah bermain. 
  3. Kegitan pembelajaran dirancang secara cermt untuk membaangun sistematika kerja/aktivitas. 
  4. Kegiatan pembelajaran beriontaso pada pengembangan kecakapan hidup anak, yaitu membantu anak menjadi mandiri dan sebagainya. 
  5. Pembelajaran dilaksanakan secara bertahap dan berulang ulang dengaan mengacu pada prinsip-prinsip perkembangan anak. 
  6. Anak akan memperoleh lebih banyak pengetahuan bila menddapat pijakan/dukungan dari guru pada saaat bermain. 
d. Alat Untuk Bermain 

Tidak semua kegiatan bermain anak menggunakn alat, seperti berlari mengelilingi ruangan, berjalan zig-zag, melompat, dan sebagainya. Namun sebagian besar kegiatan bermain mengunakan alat permainan, baik yang diciptakan sendiri dari lingkungan sekitar. 

Menurut Oppenheim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut : 
  1. Jumlah dan jenis alat permainan harus disesuaikan dengan rentang perhatian anak. Pemberian alat permainan yang terlalu banyak, justru akan mengganggu konsentrasi anak dan anak anak tidak mendapat manfaaat dari alat permainan tersebut. 
  2. Setiap alat permainan mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. 
  3. Alat permainan yang mempunyai banyak kegunaan dan variasi cara bermain, seperti alat permainan edukatif, akan lebih meningkatkan minat bermin anak. 
  4. Alat permainan mempunyai daya tahan yang tidak sama. 
  5. Alat permainan yang dirancang dengan bagus, akan menarik minat anak-anak dibaandingkandengan alat permainan yang tidak dirancang dengan baik. 
  6. Tidak semua alat permainan menyenangkan bagi anak anak. 
2. Permainan Tradisional 

1. Pengertian Permainan Tradisional 

Istilah permainan berasal dari kata ‘‘main’’ yang mendapat imbuhan ‘‘per-an’’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘‘main’’ adalah berbuat sesuatu yang menyenangkan hati. Dengan demikian ‘‘permainan’’ adalah sesuatu yang dipergunakan untuk bermain, barang atau sesuatu yang dipermainkan. Sedangkan Misbach menyimpulkan bahwa permainan adalah situasi bermain yang terkait dalam beberapa aturan atau tujuan tertentu, yang menghasilkan kegiatan dalam bentuk tindakan bertujuan. Dan dapat dipahami bahwa dalam bermain terdapat aktivitas yang diikat dengan aturan atau mencapai tujuan tertentu. 

Kemudian Ahmad Yunus juga menjelaskan bahwa permainan tradisional adalah suatau hasil budaya masyarakat, yang berasal dari zaman yang sangat tua,yang telah tumbuh dan hidup hingga sekarang, dan ada juga masyarakat pendukungnya yang terdiri atas tua muda, laki-perempuan, kaya miskin, rakyat bangsawan, dan dengan tidak membedakan satu sama lain. Permainan tradisional memiliki berbagai latar belakang yang bercorak rekreatif, kompetitif, pedagogis, magis, dan religius. Dan permainan tradisional juga menjadikan orang bersifat terampil, ulet, cekatan, tangkas dan lain sebagainya.Sementara itu juga Subagiyo juga mendefinisikan permainan tradisional sebagai permainan yang berkembang dan dimainkan anak-anak dalam lingkungan masyarakat umum dengan menyerap segala kekayaan dan kearifan lingkungannya. Di dalam permainan tradisional seluruh aspek kemanusiaan anak ditumbuh kembangkan, kreativitas dan semangat inovasinya diwujudkan.Jadi dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional adalah suatu warisan dari nenek moyang yang wajib dan perludilestarikan karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Melalui permainan tradisional, kita dapat mengasah berbagai aspek perkembangan anak. 

2. Manfaat Permainan Tradisional 

Bermain bagi anak merupakan hal yang mengasyikan. Menurut subagiyo, permainan tradisional mempunyai beberapa manfaat, antara lain sebagai berikut: 
  • Anak menjadi lebih aktif. 
  • Bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan intelektual anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan logika anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan emosi antarpersonal anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan natural anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan spasial anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan spiritual anak. 
  • Mengembangkan kecerdasan musikal anak. 

3. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Permainan Tradisional 

Permainan tradisional mengandung beberapa nilai antara lain: rasa senang, bebas, rasa berteman, domokrasi, penuh tanggung jawab, rasa patuh, rasa saling membantu, yang semuanya merupakan nilai-nail yang sangat baik dan berguna dalam kehidupan masyarakat. Bermain juga dapat membantu anak dalam menjalin hubungan sosial, mengembangkan imajinasi, mengembangkan kognisi, bahasa, motorik kasar dan serta halus. Jadi bermain bagi anak itu tidak sekedar menghabiskan waktu, tetapi merupakan media untuk belajar. 
Menurut Nugroho banyak sekali nilai yang terkandung di dalam permainan tradisional, antara lain: 
  • Nilai Demokrasi 
  • Nilai Pendidikan 
  • Nilai Kepribadian 
  • Nilai Keberanian 
  • Nilai Kesehatan 
  • Nilai Persatuan 
  • Nilai Moral 
4. Jenis-Jenis Permainan Tradisional 

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Setiap daerah mempunyai karakteristik , adat, budaya, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dan permainan tradisional pun sangatlah banyak dan bervarisi. Terdapat kurang lebih dari 57 macam permainan tradisional yang berkembang pada masyarakat dan permainan tersebut mengembangkan berbagai aspek, antara lain: perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, dan khusus aspek-aspek keterampilan sosial. 

Sebanyak 57 permainan tradisional yang telah teridentifikasi tersebut dikelompokkan menjadi 3, yaitu permainan lagu, permainan gerak/fisik, dan permainan gerak dan lagu atau gerak yang di sertai lagu. 
  1. Permainan yang melibatkan lagu antara lain: gedang gepeng, risirisan tela, hanacakara,kubuk, lir-ilir, kursi jebol. 
  2. Permainan yang melibatkan gerak fisik antara lain: balapan sempol, gobak sodor, dakon, lurah-lurahan, obar-abir, ambah-ambah lemah, dan sobyung. 
  3. Permainan yang melibatkan gerak dan lagu antara lain: gula ganti, lepetan, buta- buta galak, kacang goreng, kembang jagung, iwak emas, jaranan, baris rampak, kupu kuwi, walik jambul dan lain sebagainnya. 
C. Jenis Permainan Tradisional 

Masa kecil merupakan masa yang paling bahagia setiap orang tak terkecuali bagi orang Indonesia. Biasanya masa anak-anak sarat dengan berbagai macam permainan dan hiburan. Ada berbagai macam permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak Indonesia. Namun tampaknya dibeberapa daerah permainan- permainan tradisional ini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak. Dan mereka kini lebih suka dengan mainan-mainan modern. 

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat, orang tau, dan praktisi pendidikan, untuk kembali melestarikan kebudayaan lokal yang sangat kaya. Salah satunya adalah permainan tradisional. Berikut ini adalah beberapa permainan tradisional: 

1. Gobak Sodor 
Gobak sodor adalah permainan tradisional yang merupakan jenis grup yang terdiri dari dua regu, dimana masing-masing regu terdiri dari 3-5 orang. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas karena digunakan untuk kejar-kejaran. Tidak ada alat khusus yang digunakan, anak-anak hanya menggambar garis dengan kapur dan untuk membuat acuan garis dalam permainan. 
Cara bermain: 
  • Pertama dengan membuat garis-garis penjagaan dengan kapur yang membentuk lapangan segiempat yang kemudian dibagi menjadi 6 bagian. 
  • Kemudian membagi para peserta menjadi 2 kelompok, satu kelompok terdiri atas 3-5 peserta atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta, penentuan kelompok jaga dan kelompok lawan biasanya dilakukan oleh kapten. 
  • Kelompok yang mendapat giliran jaga akan menjaga lapangan, cara dengan menjaga garis horizontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas, dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal (kapten) tugasnya menjaga keseluruhan garis batas vertikalyang terletak ditengah lapangan. 
  • Sedangkan tim yang menjadi lawan,harus melewati baris ke baris hingga baris yang paling belakang dan kemudian kembali lagi ke baaris awal tanpa tersentuh oleh tim jaga. 
Manfaat dari permainan ini ialah selain mengajarkan kebersamaan juga dapat belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lainnya. 

2. Engklek 
Engklek merupakan permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang digambar diatas tanah. Engklek pada tahun 1970 an juga menjadi permainan favorite di kalangan anak-anak dan remaja. Dinamakan engklek karena dimainkan dengan satu kakiyang dalam bahasa jawa artinya ‘engklek’ anak yang sangat menyukai permainan sederhana ini ialah anak perempuan. Jumlah pemain engklek bebas dan biasanya 2-5 anak. Tempat bermainnya pun tidak memerlukan pekarangan yang luas tetapi datar sehingga bisa dimainkan dihalaman rumah. Garis yang dibuat seperti tanda + dengan jumlah kotak sebanyak 7 kotak, masing- masing mempunyai ‘gacuk’ dari pecahan genteng atau keramik. 

Cara bermain: 
  • Semua pemain berkumpul lalu melakukan ‘hompipah’ dan ‘sut’ untuk menentukan siapa yang main terkelebih dahulu, karena cara bermainnya secara bergantian. Anak yang pertama kali menang ialah yang bermain terlebih dahulu. 
  • Pemain melempar gacuknya pada petak nomor satu, gacuk yang dilemparkan harus ada didalam kotak dan kalau meleset kekotak lain maka dinyatakan gugur kemudian diganti pada pemain kedua dan begitu seterusnya. 
  • Dan kemudian jika semua telah dilakukan semua pemain maka pemain melemparkan gacuk dengan membelakangin engkleknya jika pas pada kotak yang dikehendaki maka kotak itu akan menjadi rumahnya maka boleh berhenti dikotak tersebut seperti pada kotak A tetapi berlaku pada pemain yang menang pada permainan tersebut. Begitu seterusnya sampai kotak-kotak angka 1 sampai 6 menjadi milik para pemain. 
  • Jika semua kotak telah dimiliki oleh sang pemain maka permainan dinyatakan telah selesai dan pemenangnya ialah pemain yang paling banyak memiliki rumah dari kotak-kotak tersebut. 
Manfaat dari permainan engklek ini melatih kemampuan fisik anak. 

3. Bakiak 
Disebut juga dengan terompa galuak. Ini merupakan permainan tradisional anak dari Sumatera Barat. Bakiak terbuat dari kayu tebal yang berbentuk sandal yang sekitar 125cm. Pada masing-masing papan terdapat tiga atau empat karet untuk pengikat kaki pemain.hingga sekarang permainan ini sangat populer untuk mengisi perlombaan 17 Agustusan di kampung. Permainan ini membutuhkan kerja sama dan kekompakan para pemainnya. Memerlukan tempat yang cukup luas untuk bermain. Pada lomba biasanya terdiri dari 3 hingga 4 regu. Jarak yang ditempuh pada lomba bervariasi antara 10 hingga 15 meter. 

Cara Bermain: 
  • Peserta yang terdiri dari beberapa regu memakai bakiak dan berdiri digaris start.dan satu orang memberi aba-aba sebagai pemandu, peserta beradu kecepatan berjalan dengan bakiak menuju garis finish. Jika dalam satu regu tidak kompak maka mereka akan terjatuh bersama, itulah yang membuat permainan itu lucu dan mengundang gelak tawa baik dari penonton mau pun dari pemainnya sendiri. 
  • Regu yang paling cepat berjalan ke finish dinyatakan sebagai pemenang. 
4. Balap Laker 

Permainan ini juga disebut dengan papan roda,ini sangat populer dimainkan oleh anak laki-laki sekitaran tahun 1970 an. Mainan ini terbuat dari kayu yang berukuran 50 X 20cm. Pemain balap laker ini kebanyakan laki-laki karena memerlukkan keberanian dan beresiko jatuh dan tabrakan. Pemai yang duduk didepan ialah disebut joki dasn pemain satunya lagi berada dibelakang sebagai tenaga pendorong. Tempat untuk bermain memerlukan jalan beraspal dikampung yang sepi dari lalu lalang kendaraan dan bermain dijalan yang menurun. 

Cara Bermain: 
  • Permainan ini sangat mudah dilakukan, yang penting mempunyai keberanian. Masing-masing pasangan peserta bersiap digaris start. Joki duduk dengan kedua tangan perpegangan pada papan.sementara itu kedua kakinya berpijak pada as kemudian setelah wasit memberi aba-aba hitungan 1-3. Masing-masing anak yang bertugas sebagai penjaga belakang mendorong pundak joki dan sijoki harus lihai mengemudi kan papan pada kedua kakinya , siapa yang terlebih dahulu sampai difinish dia lah yang menjadi pemenangnya. 
5. Kasti 
Nama kasti bukanlah nama yang populer di Indonesia, permainan ini mungkin memiliki cara bermain yang sama tapi nama permainan yang berbeda-beda sesuai pemahaman orang melihatnya. Permainan nama kasti adalah permainan tradisional yang kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki. 

Sejarah Permainan 
Permainan ini tidak ada kejelasan mengenai sejarahnya, yang pasti permainan yang satu ini adalah permainan tradisional yang sudah turun menurun yang diwariskan oleh nenek moyang. Nama kasti juga adalah permainan yang membutuhkan ketepatan melempar dan kecepatan menghindar. 

Peraturan dan Cara Bermain 
  1. Permainan ini dimainkan minimal enam orang. 
  2. Membutuhkan bola kasti dan kapur untuk membuat kotak sesuai jumlah orang dan disetiap kota tertulis satu nama orang. 
  3. Pemain bermain secara bergiliran untuk melemparkan atau menggelindingkan bola kasti, jika bola kasti berhenti di satu kotak maka, nama yang tertulis di kotak tersebut menjadi kucing. 
  4. Kucing bertugas untuk melemparkan bola mengenai pemain lain, jika bola kasti mengenai pemain lain atau si kucing melemar tidak mengenai pemain makan akan mendapatkan poin. 
  5. Jika poin sudah mencapai batas yang ditentukan maka pemain tersebut akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati di awal permainan. 
6. Gobak Sodor 
Permainan Tradisional Galah Asin/Gobak Sodor di Indonesia 
Permainan yang satu ini tentunya menjadi permainan yang populer di Indonesia, bahkan hingga saat ini permainan tradisional gobak sodor dijadikan permainan untuk perlombaan. Permainan ini membutuhkan strategi dan kecepatan dalam, melewati musuh dan menangkap musuh, permainan yang satu ini juga menjadi permainan yang banyak digemari oleh anak laki-laki maupun perempuan. 

Sejarah Permainan 
Dari nama permainan ini mempunyai terdiri dari dua kata, yaitu gobak dan sodor, gobak memiliki arti bergerak dan sodor yang berati tombak. Zaman dulu para prajurit Indonesia memainkan permainan ini. 
Mereka memainkan permainan ini sebagai latihan dalam bertempur dan berperang melawan penjajah, dulunya ada permainan yang bernama sodoran yang mempunyai makna tombak yang ujungnya tumpul. 

Peraturan dan Cara Bermain 
  1. Buatlah dua kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 orang. 
  2. Ada kelompok yang bertugas menjaga dan ada juga yang bermain. 
  3. Kelompok yang menjaga akan menghalau laju kelompok lawan agar tidak bisa lolos, dan jika tersentuh maka akan berganti tugas. 
  4. Permainan ini membutuhkan lapangan yang cukup luas, buatlah seperti lapangan bulu tangkis, petugas penjaga berjaga di garis horizontal. 
  5. Petugas jaga yang ada diposisi paling depan dapat berlali mengikuti garis vertikal yang ada ditengah lapangan. 
  6. Pemain akan bolak balik, dan menggocek petugas jika lolos maka akan mendapatkan poin. 
  7. Pemenang adalah kelompok yang memiliki poin banyak. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PEMBELAJARAN PJOK"

Post a Comment