Pegal Otot (Muscle Soreness) dan Kejang Otot (Muscle Cramps), Ketahui Penyebab dan Pencegahannya!

Gangguan Pada Otot, Pegal Otot (Muscle Soreness) dan Kejang Otot (Muscle Cramps)

Sebenarnya tidak hanya atlet yang mengenal pegal otot tapi masyarakat umum pun banyak yang mengalaminya. Pada umumnya hal ini terjadi setelah orang melakukan aktivitas/olahraga yang cukup berat yang tidak bisa dilakukan oleh otot atau sekelompok otot tersebut, sehingga otot tersebut terasa sakit atau pegal-pegal.

Maka perlu kiranya hal ini dijelaskan agar tidak mengundang pengertian yang salah, sehingga orang menjadi tidak mau lagi berolahraga.

Demikian pula tentang kejang otot, mungkin semua orang pernah mengalaminya. Namun masih banyak yang belum mengerti kejadian maupun penyebabnya. Sehingga sering terjadi penanganan yang salah terhadap kejadian ini yang Bahkan dapat menambah parah. 


Pegal Otot (Muscle Soreness) Sesudah Latihan 

Setelah bekerja cukup berat dalam waktu yang cukup lama, atau melakukan pekerjaan yang tidak biasanya dilakukan, dapat terjadi tidak hanya kelelahan lokal tapi juga pegal otot. Pegal otot ini biasanya tidak timbul segera setelah latihan/kerja berakhir; tapi timbul beberapa waktu (jam) kemudian dan dapat berlangsung beberapa hari. Apabila latihan berat itu diulangi pada hari berikutnya, maka pada awal latihan otot yang bersangkutan akan terasa sakit lagi, namun akan hilang dalam beberapa menit dan tetap demikian selama melakukan olahraga akan tetapi setelah latihan dihentikan, beberapa waktu kemudian pegal otot akan timbul lagi, namun dengan tetap meneruskan program latihan, durasi otot pegal otot makin lama menjadi makin pendek dan akhirnya hilang sama sekali dengan menjadi terlatihnya otot yang bersangkutan. Telah diamati bahwa bila latihan diakhiri dengan latihan penutup yang ringan (cooling down) akan mempersingkat lamanya masa pegal otot.

Hough (dikutip oleh Karovich:1971) mengemukakan bahwa pegal otot ditimbulkan oleh putusnya beberapa serabut otot. Memang dapat dipahami bahwa latihan keras dapat mengakibatkan putusnya serabut otot. Tetapi latihan "keras" di sini hampir pasti tidak dapat dikenakan terhadap olahraga pada umumnya yang dapat menimbulkan pegal-pegal otot. Jadi istilah "keras" di sini hanya menunjukkan otot menjalani latihan yang lebih berat dari pada yang biasa dilakukan. Pendapat Hough ini tidak didukung oleh data penelitian, sehingga kurang mendapat dukungan. Disamping itu, ditinjau dari sudut fisiologi kedokteran dapat dikemukakan bahwa bila terjadi putus serabut-serabut otot (ruptura muscular), nyeri otot akan terjadi seketika itu juga, bukan pegal otot yang datang beberapa waktu kemudian. Selain itu oleh karena nyerinya esok harinya ia tidak akan mau kembali berlatih. Kalaupun mau mencoba, makanya nyerinya bukannya menghilang akan tetapi bahkan bertambah. Perlu diketahui bahwa ruptura muscular adalah cedera otot, sedangkan pegal otot bukan cedera otot.

Penjelasan yang lebih dapat diterima mengenai pegal otot ini ialah bahwa latihan yang cukup berat dan lama, mengakibatkan timbulnya sampah olahdaya (metabolisme) dalam jumlah yang berlebihan, yang menyebabkan meningkatnya tekanan osmotik di dalam dan diluar sel-sel otot. Peningkatan tekanan osmotik ini selanjutnya akan mengakibatkan banyaknya air yang tertimbun sehingga terjadi edema (pembengkakan), yang selanjutnya akan menekan syaraf-syaraf sensoris, maka akan terasa sebagai pegal otot.

Asmussen (dikutip oleh Karpovich 1971) merasa bahwa teori ini pun tidak meyakinkan, maka dia mengadakan penelitian terhadap 16 orang wanita. Perlakuannya adalah naik turun bangku setinggi 50 cm, dengan selalu menggunakan tungkai yang sama untuk naik bangku, dan turun selalu menggunakan kaki yang lain. Kecepatan dan irama naik turun bangku ini harus dipertahankan tetap konstan. Dalam percobaan lain, salah satu otot flexor lengan bawah diberi perlakuan mengangkat beban antara 5 sampai dengan 7 kg dan otot flexor dari lengan bawah yang lain menurunkannya. Perlakuan ini diteruskan hingga orang coba menyatakan lelah. Dalam kedua macam percobaan itu pengangkatan badan/beban merupakan kerja positif, sedangkan penurunan beban adalah kerja negatif. Ternyata kelelahan timbul pada otot yang melakukan kerja positif. Tetapi pengamatan terhadap orang coba pada hari berikutnya menunjukkan bahwa kerja positif mengakibatkan pegal otot hanya terdapat terhadap 2 orang coba pada otot extensor tungkai yang dipakai untuk naik turun naik bangku, dan terhadap 5 orang coba pada otot flexor lengan bawah yang dipakai untuk mengangkat beban. Sedangkan kerja negatif mengakibatkan pegal otot terhadap 15 orang coba pada otot ekstensor tungkai yang dipakai untuk turun dari bangku dan terhadap 12 orang coba pada fleksor lengan bawah yang dipakai untuk menurunkan beban.

Oleh karena olahdaya (metabolisme) yang terjadi pada kerja negatif 5 sampai 7 kali lebih kecil daripada olahdaya pada kerja positif, maka pegal otot bukan merupakan akibat dari berlebihannya sampah olahdaya. Dari berbagai fakta tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pegal otot disebabkan oleh pengaruh tarikan mekanis serabut serabut otot terhadap jaringan ikat intramuskular. Memang akan  timbul pertanyaan mengapa kerja negatif lebih mengakibatkan pegal otot dibandingkan kerja positif? Pada kerja negatif serabut otot berkontraksi tetapi memanjang, dan bersamaan dengan itu jumlah serabut otot yang terlibat menurun, akibatnya terjadilah penarikan yang lebih kuat terhadap jaringan ikat yang pada masing-masing serabut otot. Kejadian ini yaitu tarikan yang berlebihan pada jaringan ikat pada tiap serabut otot merupakan rudapaksa (trauma), yang kemudian menyebabkan terjadinya edema (pembengkakan) setempat, yang selanjutnya menyebabkan terjadinya rasa nyeri.

Sedangkan pada kerja positif, serabut-serabut otot memendek, serta dengan meningkatnya jumlah serabut otot yang terlibat dalam kontraksi itu. Hal ini menyebabkan berkurangnya tarikan masing-masing serabut otot terhadap jaringan ikatnya. Menyimak uraian terdahulu maka untuk mengatasi pegal otot, dapat dilakukan dengan cara melakukan gerakan ringan (senam) yang merupakan istirahat aktif dengan tujuan meningkatkan mekanisme pompa vena atau dengan cara mengistirahatkan otot yang mengalami pegal otot sambil dilakukan massage.

Kejang Otot (Muscle Cramps)

Setiap olahragawan pasti mengenal Kejang Otot (Muscle Cramps). Kejang otot ialah kontraksi pada satu atau beberapa otot yang terjadi dengan tiba-tiba spontan, kuat, berlangsung lama, dan terasa sakit. Mekanisme yang pasti tentang kejadian kejang otot belum diketahui. Kadang-kadang ada perasaan yang merupakan tanda pendahuluan akan terjadinya kejang otot. Dalam keadaan yang demikian otot-otot yang akan terlibat dalam kejang otot dapat direlaxasikan dibawah kemauan sebelum terjadinya kejang otot. Biasanya kejang otot terjadi tanpa adanya peringatan dan tanpa adanya penyebab yang jelas misalnya, ketika seseorang sedang enak membaca sambil berbaring. Kadang-kadang kejang terjadi hanya pada otot yang telah dipergunakan pada waktu yang lama dan berat, dan dipicu hanya oleh kontraksi yang ringan saja pada otot yang telah lelah. Kadang dengan disengaja melalui kontraksi yang kuat pada otot yang masih segar. Kejang otot macam yang terakhir ini paling mudah dibangkitkan pada otot telapak kaki.

Untuk mengatasi kejang otot yang terjadi tanpa tanda atau penyebab yang jelas, cara yang paling baik ialah dengan meregangkan/stretching otot yang mengalami kejang otot itu, yang dapat dilakukan dengan cara mengkontraksikan otot antagonisnya atau dengan meregangkan otot-otot yang bersangkutan secara pasif dengan berbagai cara.

Penyebab pasti dari kejang otot bersumber dari saraf maupun unsur saraf otot (neuromuscular). Apabila kejang otot didahului oleh tanda peringatan, mungkin sekali kejang otot itu disebabkan oleh menurunnya ambang rangsang saraf-saraf motorik, akibatnya secara tiba-tiba frekuensi impuls saraf ke otot meningkat, yang menyebabkan terjadinya kejang otot.

Kontraksi otot terjadi karena dilepaskannya acetylcholine yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf motorik pada keping motorik (motor end plates). Biasanya saat ini segera dihancurkan oleh cholinesterase. Tetapi apabila hal ini tidak terjadi karena adanya hambatan terhadap fungsi cholinesterase, misalnya oleh racun organofosfat, maka pada awalnya memang terjadi kejang otot tetapi selanjutnya terjadi paralisis. Oleh karena rangsangan yang terus-menerus oleh acetylcholine menyebabkan terjadinya kondisi kondisi refrakter yang terus menerus pula. 

Kejang Otot Perut (Abdominal Cramps)

Sering orang mendengar betapa bahayanya kejang otot perut, bila terjadi pada waktu berenang. Penelitian oleh Lanoue (Karpovich and Sinning, 1971) mengemukakan bahwa dari 30.000 perenang yang berhasil ditemuinya, ternyata tidak seorang pun yang pernah mengalami kejang otot perut. Kejang otot perut ternyata memang sangat jarang. Suatu kejadian pada orang yang sedang memancing, mengalami kejang otot rektus abdominalis kiri, ketika ia membungkukkan badannya untuk mengambil sesuatu di bawah bangku duduk tempat ia duduk. Nyerinya luar biasa dan oleh karena nyarinya makin hebat tatkala ia bernapas, maka ia kemudian meregangkan otot tubuhnya dan menahan nafas. Ternyata kejang ototnya hilang. Sungguh tidak diragukan lagi bahwa kejang otot sehebat itu dapat menjadi fatal bila terjadi pada orang yang sedang berenang. Sekalipun orang itu pandai berenang apabila jauh dari pantai kejadian itu dapat menyebabkan orang menjadi tidak berdaya dan tentu saja berakibat fatal.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pegal Otot (Muscle Soreness) dan Kejang Otot (Muscle Cramps), Ketahui Penyebab dan Pencegahannya!"

  1. Thanks for the blog post buddy! Keep them coming... best massage machine

    ReplyDelete
  2. I think this is an informative post and it is very useful and knowledgeable. therefore, I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article. CBD Pain Cream

    ReplyDelete